Bos Sawit hati-hati, Harga CPO Gak Kuat Nanjak Pekan Ini

Pekerja memuat tandan buah segar kelapa sawit untuk diangkut dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Pekanbaru, provinsi Riau, Indonesia, Rabu (27/4/2022). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ambles 3,81% ke harga MYR 3.989 per ton pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (28/10/2022). Koreksi tersebut membuat CPO gagal menguat secara mingguan dan turun di bawah level MYR 4.000 yang terakhir dicatatkan pada 17 Oktober lalu.

Dalam sepekan, harga CPO melemah 2,73% secara point-to-point. Dalam sebulan, harga CPO menguat nyaris 24% dari posisi terendah tahun ini di harga MYR 3.226 yang dicatatkan akhir September lalu. Sementara itu dari level tertinggi tahun ini yang sempat tembus MYR 7.100, harga CPO telah terpangkas nyaris setengahnya, sedangkan dari awal tahun harganya telah turun 15%.

Melansir Reuters, seorang pedagang di Kuala Lumpur menilai harga CPO tertekan karena para pelaku pasar melakukan aksi jual karena harga CPO telah menanjak ke level MYR 4.000/ton.

"Kami mengikuti pasar eksternal agak dekat saat ini, jadi ketika Dalian dan CBOT mengambil nafas, kami akan mengikuti untuk mengambil keuntungan," kata seorang pedagang di Kuala Lumpur.

Sejatinya, minyak nabati kerap bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar di pasar nabati global, sehingga ketika harga minyak kedelai mulai melandai tentu akan membebani laju harga CPO.

 
 

Selain itu, para pedagang juga memprediksikan nilai ekspor CPO Malaysia lesu ketika produksinya diprediksi membengkak.

Pasalnya, persediaan CPO Malaysia pada akhir September 2022 membengkak 10,5% menjadi 2,32 juta ton dan menjadi posisi tertinggi dalam hampir tiga tahun, jika mengacu pada laporan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dirilis pada awal Oktober lalu.

Di sisi ekspor, Surveyor Kargo Intertek Testing Services memproyeksi bahwa ekspor CPO pada periode 1-25 Oktober 2022 malah anjlok 3,5%. Hal serupa, Kargo Surveyor Societe Generale de Surveillance memperkirakan ekspor CPO pada periode yang sama, turun tipis 0,6% dari 1.152.612 ton menjadi 1.146.113 ton.

Maka dari itu, ketika pasokan lebih besar dari permintaan, tentunya akan berpotensi menekan harga CPO ke depannya. Melemahnya nilai ekspor dapat menunjukkan bahwa permintaan akan CPO berkurang, sehingga pasokan CPO akan membanjiri pasar nabati dan membuat harganya kian melemah.